Selasa, 26 November 2013

Selembar Kertas Putih

           Jam berdetak sangat cepat hingga tak terasa matahari pagi sudah menampakkan sinarnya di ufuk timur. Tetapi aku masih ngantuk sekali, rasanya mataku ini ada pelekatnya sehingga sulit untuk dibuka -.- . “Huwaaahh... jam berapa sih ini, kog aku masih ngantuk banget???” kataku sambil mencoba untuk bangun dari tempat tidurku yang empuk ini. Ku buka jendela kamarku, hembusan angin pagi menyejukkan jiwa dan ragaku. Terdengar burung berkicau, berterbangan kesana kemari, serta bersukaria menyambut hari yang indah ini. “Oh ya aku lupa sekarangkan hari Minggu waktunya libur sekolah!!! Asyiik aku bisa memberi makan hamster kesayanganku sepuasnya” kataku dengan gembira. “Ukhhh aku juga lupa kalau hamsterku dibawa adikku ke rumah nenek. Ahh gak asyik dech sendirian disini!” pikirku dengan wajah cemberut >.<  . Sebenarnya aku tinggal bersama ibu dan adikku, tetapi mereka berdua sedang pergi ke rumah nenek kemarin jadi aku sendirian di rumahku.
            Setelah mandi aku berniat untukpergi bersama temanku karena aku bosan dirumah, sepi banget gak ada temen buat ngobrol. Ku bukalah pintu rumahku selebar-lebarnya  temanku gak usah ketok-ketok pintu. Tiba-tiba ku lihat selembar kertas putih 


melayang-layang di udara terbawa hembusan angin yang halus dan mendarat tepat di depanku. “Wah kertas apa ini? Kog kertasnya hanya selembar putih banget lagi tanpa noda” kataku dengan agak bingung. Ku lihat dengan penuh penasaran ternyata terdapat tulisan yang tak begitu jelas yang bertuliskan “Siapapun yang menerima kertas ini dia lah orang yang berhak untuk memiliki ku”. Hatiku mulai bertanya-tanya siapa gerangan yang menulis di selembar kertas ini???. Tak lama kemudian temanku yang kutunggu-tunggu akhirnya datang juga “Ayo Tin katanya mau main, keburu siang niih!” katanya, “Ya sebentar aku mau mengunci pintu ku dulu” jawabku. Kami pun berangkat untuk bermain. Didalam perjalanan aku masih memikirkan tentang siapa pengirim selembar kertas putih itu dan apa maksud dari isinya serta kenapa kertas itu mendarat di depanku?. Aku masih tak mengerti dan bingung, sampai-sampai temanku bicara gak aku dengerin.
Bersambung.............
Karya: Di@n

Kamis, 21 November 2013

Kamulah Teman yang Ku Nanti

            Gemericik hujan telah membasahi seluruh tubuhnya, derasnya hujan tak membuatnya panik tetapi dia tetap tenang dengan langkah yang kaku. Ku melihatnya dengan hati kecilku berkata”Kasihan dia sendirian menanggung derasnya hujan, seluruh tubuhnya jadi basah kuyup deh! :o ”. Aku pun mencoba memberikan payung padanya karena aku sudah memakai  hujan, ya mungkin saja dia membutuhkannya. Tetapi setelah ku mendekatinya sepertinya aku mengenalinya , ternyata setelah kupikir beberapa saat, aku baru sadar bahwa dia adalah Toni teman masa kecil ku. Aku tak menyangka dia ada disini, ini seperti mimpi bagiku. Oh tidak, ini bukan mimpi buktinya pipiku yang tembem ini sakit waktu aku jiwit :P. “Tetapi dia mungkin sudah lupa dengan ku bahkan tak kenal lagi denganku kan sudah lama tak jumpa” pikirku dalam benakku.

          Setelah itu kuberikan payung ini pada Toni sambil berkata “Ini payung untukmu ambillah aku sudah pakai jas hujan kog!!!”. Dia menoleh padaku dengan lembut disertai mata yang tajam. Tiba-tiba dia memelukku dengan erat bahkan sangat erat sampai dadaku agak sesak .”Aduh..kamu kenapa sih kog tiba-tiba memelukku begini? Aku jadi gak ngerti sama sekali dengan mu” kataku dengan hati yang berdebar-debar. Tetapi dia tetap saja memelukku malah sambil menangis tersedu-sedu.”Huuh capek deh!”kataku dalam hati. Akhirnya dia mau melepaskan pelukannya, lega rasanya dada ini dan dia mulai berbicara dengan pelan “A..aku....” kata Toni dengan gugup “Apa..Kamu mau bicara apa sih yang jelas disini hujannya deras gak kedengeran tau!” jawabku. Dia mulai melanjutkan perkataanya “Aku senang sekali bisa bertemu dengan mu dari kejauhan kulihat dirimu dan aku yakin bahwa itu kamu ternyata benar setelah kau mendekatiku, ya kamulah Dita teman masa kecilku yang ku tunggu selama ini yang dulu menghilang secara tiba-tiba dan sekarang muncuk secara tiba-tiba juga! :’)” dia berkata seolah-olah aku malaikat yang muncul dari langit. “Ya aku memang Dita ternyata kamu masih ingat sama aku? Ku kira kamu lupa atau gak kenal lagi sama aku!” kataku dengan agak kesal padanya. “Aku gak akan lupa sama kamu seumur hidupku aku akan selalu ingat padamu dan aku gak mau berpisah lagi dengan mu Dit, aku ingin kita berteman selamanya! Jangan hilang dari kehidupan ku lagi ya!!” kata Toni dengan penuh keyakinan dan kebahagiaan
“Haduh..gak usah lebay gitu deh Ton! Ya deh aku janji gak akan menghilang lagi dari kehidupanmu gitu aja nangis dasar loe cowok apa cewek sih??? Hahahahaha :D”  jawab ku dengan hati gembira+senang+bahagia. Akhirnya  aku dan Toni pulang bersama-sama. Syukurlah teman yang ku nantikan selama ini sekarang ada disampingku.
                                                                   Karya: Di@n

Sabtu, 09 November 2013

Semoga Kau Menyadarinya



Dia adalah orang yang tertutup, bahkan sangat tertutup. Tetapi aku yakin dibalik itu semua pasti dia merahasiakan sesuatu yang orang lain tak boleh tau. Aku jadi penasaran dengan dia, seolah-olah aku ingin sekali mendekatinya dan bertanya tentang semua rahasianya, tetapi aku juga takut dia malah menjauhiku nantinya :o .
            Bel pulang pun berbunyi. Seperti biasa aku pulang dengan sepeda kesayangan ku. Di perjalanan aku berhenti sejenak, entah apa yang menghentikanku  disana. Terasa berat untuk meneruskan perjalanan ini. Hati kecilku bertanya-tanya mengapa aku berhenti disini???. Aku jadi bingung dan pusing tujuh keliling.
            Ku lihat disekelilingku kupandangi disetiap sudut jalan ini, ternyata ada Ria yang sedang duduk termenung di pinggir jalan, ya dialah orang yang tertutup itu. Kucoba mendekatinya dengan langkah yang agak pelan. Ku pegang bahunya dengan lembut… dan dia menoleh kepadaku dengan wajah cemas. Aku pun bertanya kepadanya ”Hai Ria mengapa kau berdiri sendiri disini, bukankah kau harus pulang? Apakah kedua orang tua mu tidak cemas?”. Dia hanya terdiam membisu tak menjawab sepatah kata pun pada ku. Ku coba untuk bertanya sekali lagi dengan nada yang rendah ” Ria jawablah pertanyaan ku jangan buat aku jadi penasaran kepadamu!”. Dan akhirnya dia mau membuka mulutnya juga untuk berbicara padaku. Dengan nada yang agak tinggi dia pun berkata “Percuma saja kau menyuruhku untuk pulang, itu tak akan berpengaruh pada ku. Aku bosan di rumah, aku bosan dengan orang tua ku yang selalu mengaturku!”. Dia berlari entah kemana dengan membawa air mata kesedihan. Mulutku terbungkam dengan ucapannya, terasa sesak dada ini setelah mendengar perkataannya. Ku lanjutkanlah  perjalanan pulang dengan sepeda kesayanganku dengan langkah yang kaku.
            Keesokan harinya di sekolah, aku memikirkan perkataan Ria. Aku heran masih ada saja anak yang egois dan marah terhadap  orang tua nya, padahal itu semua adalah perbuatan yang salah, hmm yasudahlah….
Bel masuk berbunyi . Kulihat Ria dengan pandangan yang penuh keheranan. Tetapi dia malah memalingkan wajahnya  ke tembok, ya mungkin saja dia ingin melihat semut yang berjalan-jalan di tembok! :P. Pak guru pun datang dengan menagih PR Bahasa Indonesia tentang membuat cerita pribadi. Di suruhlah aku maju untuk membacakan tentang cerita pribadiku. Sebemarnya aku berharap  Ria mendengarkan ceritaku ini, tetapi sepertinya dia tak menghiraukanku. Biarlah mungkin nanti dia akan mendengarkan ceritaku dengan sendirinya.
Ku mulailah membaca cerita pribadiku.Aku memang mempunyai orang tua, tetapi sejak aku kecil mereka telah lama berpisah. Sekarang mereka sudah mempunyai pasangan masing-masing, mereka tak menghiraukanku lagi karena sibuk dengan urusannya sendiri. Ketika mereka berpisah aku dititipkan ke nenek ku yaitu ibu dari ayah ku, tetapi nenek ku sekarang sudah meninggal sehingga aku sekarang hidup sendiri. Dunia terasa hampa bagiku, tetapi aku masih bersyukur  karena aku tidak perlu membiayai sekolahku karena aku mendapatkan beasiswa sejak SD sampai saat ini.Nah, dari  itu semua aku sadar bahwa  keberadaan orang tua itu lebih enak dibandingkan dengan tidak adanya orang tua. Dan aku belajar dari kehidupanku ini.
Aku pun mengakhiri ceritaku dan duduk kembali ketempatku. Ku lihat pandangan Ria kepada ku, seolah-olah dia ingin mengatakan sesuatu kepada ku .Di dalam hati kecilku aku berharap, semoga Ria sadar bahwa apa yang dia lakukan pada orang tua nya itu salah besar dan semoga dia mau pulang ke rumahnya dan menyesali perbuatannya itu.



                                                               KARYA: D!@n
Kursor Blog